Sudahkah Anda Menjadi Penerjemah Yang Baik

By – On December 21, 2012 – In Ketrampilan Penerjemah, Penerjemah With No comment
Sudahkah Anda Menjadi Penerjemah Yang Baik

Penguasaan ilmu-ilmu pendukung sangatlah penting dimiliki oleh seorang penerjemah. Kalau tidak, seorang penerjemah tentu akan mengalami kesulitan yang serius.

Misalnya, jika seorang penerjemah yang tidak menguasai bidang kedokteran diminta untuk menerjemahkan materi-materi di bidang kedokteran, dia tentu akan kesulitan untuk memahami materi tersebut.

Kegagalan memahami materi dengan baik tentunya akan berakibat penerjemahannya melenceng dari isi (content) dan pesan (message) yang disampaikan Bahasa sumber .

Penerjemah-baik

Berdasarkan hal tersebut, menurut saya, jika ingin menjadi seorang penerjemah yang benar-benar handal dan profesional, dia pun dituntut untuk memiliki ‘kerendahan hati’ dalam menerima bantuan/berkonsultasi dengan orang yang lebih ahli jika dia terpaksa harus menerjemahkan materi di bidang yang tidak begitu dikuasainya.

Jika dia diharuskan menerjemahkan materi berita surat kabar padahal dia sama sekali tidak memiliki pengalaman sebagai seorang jurnalis, maka tidak ada salahnya berkonsultasi dengan seorang jurnalis yang berpengalaman karena bahasa dalam surat kabar seringkali sangat khas alias tidak seperti bahasa yang umum dipakai.

Demikian pula jika seorang penerjemah dituntut untuk menerjemahkan sebuah undang-undang atau regulasi padahal latar belakangnya sama sekali bukan bidang hukum, maka tidak ada salahnya berkonsultasi dengan ahli-ahli hukum untuk mendapatkan hasil terjemahan yang sifat keberterimaannya tinggi.

Masalah ‘kerendahan hati’ ini mungkin harus sangat ditekankan, karena saya begitu sering menjumpai penerjemah yang ‘tidak mau menerima koreksi dengan lapang hati’ atas hasil terjemahan mereka hanya karena menganggap diri sudah ahli dalam bahasa tersebut. Orang yang memberikan koreksi dianggap ingin menjatuhkan kredibilitasnya, dianggap menghina kemampuannya, dan sebagainya. Padahal belum tentu si korektor mempunyai alasan yang sejelek itu.

Bisa saja kan koreksi itu dilakukan si korektor berdasarkan rasa tanggung jawab terhadap profesinya. Dengan kata lain, saya sangat jarang menemukan penerjemah yang dengan lapang hati mau  menganggap sebuah koreksi (terutama dari koreksi dari seorang ahli atau dari penerjemah yang jam terbangnya sudah jelas-jelas lebih tinggi daripada dirinya) sebagai alat untuk mengasah dirinya untuk menjadi seorang penerjemah yang lebih baik lagi di masa depan.

Seandainya seorang penerjemah mau berbaik sangka terhadap setiap kritik dan koreksi, yang akan diuntungkan sebenarnya adalah si penerjemah sendiri; kemampuannya akan berkembang terus secara positif.

Leave a Comment